Bisnis Terselubung Study Tour: Mengapa kegiatan luar sekolah selalu dipaksakan meskipun mencekik dompet wali murid dan membebani guru?
Bisnis Terselubung Study Tour: Mengapa Kegiatan Luar Sekolah Selalu Dipaksakan Meskipun Mencekik Dompet Wali Murid dan Membebani Guru?
Komodifikasi Jargon “Pembelajaran Kontekstual”
Namun, realita di lapangan sering kali menjungkirbalikkan jargon-jargon indah tersebut. Sesampainya di lokasi, porsi edukasi biasanya hanya berlangsung kilat—tidak lebih dari satu atau dua jam sekadar untuk berfoto bersama sebagai laporan administratif. Sisa waktu selebihnya dihabiskan untuk rekreasi murni di wahana permainan modern, berbelanja di pusat oleh-oleh, atau sekadar menghabiskan waktu di dalam bus. Study tour telah mengalami deviasi makna (melenceng) menjadi perjalanan wisata komersial yang dibungkus dengan stempel pendidikan palsu demi melegitimasi penarikan dana massal.
Gurita Bisnis Kickback: Menguak Aliran Dana Agensi Wisata
Dalam skema kerja sama yang jamak terjadi di pasar gelap birokrasi sekolah, agensi travel yang ditunjuk biasanya memberikan berbagai fasilitas gratis dan keuntungan materiil kepada oknum pengambil kebijakan di sekolah, seperti:
-
Kuota Jatah Gratis (Free of Charge): Untuk setiap sekian puluh siswa yang membayar, agensi memberikan jatah kursi gratis yang kemudian digunakan oleh oknum pengurus sekolah, komite, bahkan keluarga mereka untuk ikut berlibur tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
-
Bonus Uang Tunai (Cashback): Pengembalian sekian persen dari total dana yang terkumpul langsung ke kantong pribadi oknum panitia sebagai “upah lelah” atau biaya koordinasi penunjukan agensi.
-
Fasilitas Premium Tersembunyi: Mulai dari fasilitas hotel bintang lima bagi elit pengurus saat studi banding, hingga bingkisan parcel mewah menjelang hari raya.
Aliran dana gelap inilah yang menjadi bahan bakar utama mengapa sekolah rela menutup mata terhadap jeritan ekonomi wali murid. Ada kepentingan kapital pribadi yang sedang dipertahankan di atas punggung orang tua siswa.
Beban Ganda Guru: Menjadi “Sipir Gratisan” Selama Perjalanan
Narasi yang berkembang di publik sering kali menyudutkan seluruh korps guru sebagai penikmat fasilitas study tour. Padahal, bagi mayoritas guru biasa—terutama guru honorer—kegiatan ini adalah beban ganda (double burden) yang melelahkan fisik dan mental tanpa kompensasi yang layak.
Guru-guru yang ikut serta dalam perjalanan dipaksa mengemban tanggung jawab raksasa selama 24 jam penuh untuk mengawasi keselamatan, kesehatan, dan tingkah laku ratusan remaja di ruang publik. Energi mereka habis terkuras untuk memastikan tidak ada siswa yang tersesat, jatuh sakit, atau melanggar asusila di lokasi wisata. Tragisnya, tanggung jawab dengan risiko hukum dan nyawa yang begitu besar ini sering kali tidak dibarengi dengan uang saku atau insentif yang memadai. Guru kerap kali diposisikan sebagai pemandu wisata sekaligus “sipir pengawas” gratisan demi menyukseskan proyek liburan yang keuntungannya dinikmati oleh segelintir elit sekolah.
Kesimpulan: Saatnya Membuka Opsi Alternatif Edukasi Tanpa Biaya
Study tour dalam bentuk mobilisasi massal berbiaya mahal ke luar kota atau luar pulau sudah sepatutnya didekonstruksi (dirombak total). Mengaitkan kelulusan atau nilai akademis siswa dengan kemampuan membayar paket wisata adalah bentuk pemerasan struktural berkedok pendidikan.
Kementerian Pendidikan dan Dinas Pendidikan di daerah harus mengeluarkan regulasi yang lebih radikal, bukan sekadar imbauan normatif. Terapkan larangan tegas terhadap segala bentuk penarikan uang study tour yang dikelola secara mandiri oleh pihak sekolah atau komite. Jika sekolah ingin melakukan pembelajaran kontekstual, optimalkan potensi destinasi edukasi lokal di dalam kota yang bisa diakses menggunakan transportasi publik dengan biaya minimal. Berikan hak merdeka belajar yang sejati kepada siswa: biarkan mereka yang mampu berwisata pergi secara mandiri bersama keluarga mereka, dan biarkan ruang sekolah fokus pada fungsi utamanya sebagai tempat belajar yang inklusif, murah, dan setara bagi semua golongan ekonomi.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!